Malam Jum'at Wage di Rumah Bersejarah

"Pak, wonten acara nopo kok kathah Pak Pulisi kaleh Pak Kentara?" (Pak, ada acara apa kok banyak Pak Polisi dan Pak Tentara?) Tanya seorang Ibu paruh baya dengan logat jawanya beberapa pekan yang lalu.

Sudah tiga pekan pihak Kecamatan Tambakboyo bersama Babinsa, Babinkamtibmas, dan tentunya dibantu oleh Pemerintah Desa Pabeyan dan TNI AL daru Puslatpur Marinir Animha Bancar membersihkan sebuah rumah tua yang masih berdiri kokoh di selatan Jalan Raya Tuban-Semarang Km. 32 itu. Dari kabar yang beredar rumah tersebut adalah milik Alm. Mbah Ma'ruf- seorang pejuang pada era Imperialis Belanda- yang dulu digunakan sebagai markas ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia). 

Giat bersih dan persiapan yang dilakukan selama 3 pekan akhirnya sampai pada puncaknya, dimana acara Malam Tirakatan/ Tasyakuran dalam rangka "Menyambut HUT ke-73 Proklamasi Kemerdekaan RI Tahun 2018 Kecamatan Tambakboyo" akan dilaksanakan. Berbeda dari tahun tahun sebelumnya, dimana acara tersebut dilaksanakan di Pendopo Kantor Kecamatan, khusus malam ini, 16 Agustus 2018, tepatnya malam Jum'at Wage, acara tahunan tersebut untuk pertamakalinya digelar di Desa Pabeyan. Digelarnya acara malam ini di rumah Mbah Ma'ruf adalah untuk mengenang dan menolak lupa akan sejarah rumah tua yang dahulu digunakan sebagai markas ALRI dalam menjaga keamanan sepanjang pesisir pantai Tuban.

"Pak nanti acaranya apa saja? sampai malamkah?" tanya seorang ibu sambil menggendong putranya yang masih balita.

Tamu undangan dari UPT Puskesmas, UPT Pendidikan, KUA, Yayasan, Kyai, Ta'mir Masjid, Tokoh Masyarakat, dan para tetangga memenuhi aula rumah seluas 10x6 meter itu. Pada pukul 20.00 WIB, Bapak Darmaji-MC- membuka acara tersebut dan diselingi dengan beberapa sambutan. Kemudian dilanjutkan dengan bacaan tahlil & kirim do'a kepada para Pahlawan Indonesia yang telah gugur untuk merebut kembali kemerdekaan Indonesia. Cerita dan ulasan sejarah menambah kesakralan acara pada malam ini ditambah dengan wawancara kepada salah satu saksi sejarah yang merupaka pendudukan Desa Pabeyan bernama Mbah Tohari. Namun sayang, mungkin karena kondisi fisik dan daya ingat responden yang sudah sepuh, Bapak Didik tidak bisa menggali informasi lebih dalam lagi terkait rumah ini. Namun para tamu undangan puas dengan sedikit cerita yang diutarakan beliau tentang sejarah rumah ini. Walau mungkin masih banyak dari mereka yang penasaran dan ingin tahu lebih jauh tentang rumah ini. Do'a mengakhiri acara pada malam ini dilajutkan dengan makan nasi tumpeng bersama. Sebuah budaya Masyarakat Indonesia yang masih melekat dan akan selalu kita lestarikan. Pada pukul 21.45 WIB acara tersebut selesai.

Sejarah itu penting. Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Tanpa ada sejarah tidak akan mungkin ada hari ini, esok, dan lusa. Dari sejarah kita bisa belajar, dengan sejarah kita bisa mengajar, dan karena sejarah kita bisa menjadi lebih bijaksana dalam menafsiri banyak hal.

إِنَّ اللهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوْا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

"Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sehingga mereka mau mengubah keadan yang ada pada diri mereka sendiri" QS. Arro'du : 12

"Tuhan tidak mengubah nasib suatu bangsa sebelum bangsa itu mengubah nasibnya sendiri" -  Bung Karno

"Kita tidk selalu bisa membangun masa depan untuk generasi muda, tapi kita dapat membangun generasi muda untuk masa depan" - Franklin D. Roosevelt

Dirgahayu Republik Indonesia! Jayalah Indonesiaku! Bangkitlah Tanah Airku! Indonesia kita, Tanah Air Kita!.  Jangan lupa esok pagi kita Upacara Bendera 17 Agustus.

Indonesia, 17 Agustus 2018, 02.30 dini hari

oleh : Abang H.

 

Formulir Komentar (Komentar baru terbit setelah disetujui Admin)